Tampilkan postingan dengan label JOGJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JOGJA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

10 FALSAFAH HIDUP ORANG JAWA

DALAM berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, "Wong Jowo sing ora njawani".

Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.
Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.

Jumat, 28 Oktober 2011

JOGJA SEHAT TANPA TEMBAKAU

Materi Audiensi Forum PIK-R Kab. Sleman & FORANS (Forum Anak Sleman) bersama JSTT (Jogja Sehat Tanpa Tembakau) ke Komisi D DPRD Kabupaten Sleman.


Silakan di download jika sahabat semua ingin mengetahui fakta2 "LUAR BIASA" tentang rokok terutama di DIY secara khusus di Kabupaten Sleman.

Monggo pencet mawon :)



Rabu, 19 Oktober 2011

Pawiwahan Ageng GKR Bendara & KPH Yudanegara

Bulan ini Jogja sedang rame2nya. Bagaimana tidak. Berbagai acara akbar digelar di kota pelajar ini.
Dari peringatan ulang tahun kota Yogyakarta ke-255 tahun yang diperingati setiap tanggal 7 Oktober, kunjungan Opera Van Java yang digelar di Candi Prambanan Kabupaten Sleman, sampai acara puncak Pawiwahan Ageng (acara akbar) pernikahan putri bungsu Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara (Nurastuti Wijareni) dan Kanjeng Pengeran Haryo Yudanegara (Achmad Ubaidillah) yang menjadi perhatian masyarakat nasional maupun internasional.

Setiap even yang ada selalu semarak dan meriah. Ulang tahun kota Yogyakarta dimeriahkan dengan berbagai pegelaran, karnaval, dan pawai mozaik dari berbagai elemen masyarakat menjadi sangat berkesan. Kedatangan Opera Van Java pun juga menjadi perhatian warga Jogja. Para personilnya (Parto, Andre, Sule, Azis, Nunung) begitu dielu-elukan saat mengadakan pawai di jalan sebelum mengadakan "Show" di Candi Prambanan pada tanggal 15 Oktober 2011 kemaren dari pukul 15.00 sampai pukul 22.30. Jalan Solo saat itu menjadi padat merayat.

Dan even yang paling besar adalah Pawiwahan Dhaup Ageng (acara pernikahan besar) GKR Bendara dan KPH Yudanegara. Beritanya pun menjadi sorotan di berbagai media. Warga Jogja begitu antusiasnya menyaksikan rangkaian acara tersebut. Apalagi saat kirab nganten pada hari Selasa Wage tanggal 18 Oktober 2011 mulai pukul 16.00. Sepanjang jalan di titik 0 km bagaikan lautan manusia. Saya pun ikut serta dalam acara tersebut hanya saja karena berangkatnya agak sorean karena baru pulang dari kantor, akhirnya di sana cuma bisa liat orang2 yang tumpah ruah di Jalan Malioboro.

Berikut beberapa gamabar yang bisa diabadikan :)
Harap maklum klo cuma pake kamera HP..
Hehehe...


Jumat, 03 Juni 2011

Merasakan Denyut Pasar Beringharjo

Oleh Isyana Artharini

Pasar Beringharjo masih menjadi tujuan utama berbelanja buat mereka yang bertandang ke Yogyakarta. Meski di Jalan Malioboro juga terdapat banyak toko batik dan suvenir, tetapi mereka masih belum dapat menandingi pasar Beringharjo.

Pada akhir pekan, lorong-lorong penjual batik di lantai dasar pasar ini pasti akan penuh sesak. Anda harus siap berdesakan dengan penjaja batik yang menawarkan dagangannya — juga dengan dua arus pengunjung yang berbelanja di lorong-lorong sempit itu.


Bagian depan Pasar Beringharjo. Foto: Tempo/Hariyanto

Sabtu, 12 Maret 2011

Sekilas tentang Jogja

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

kraton yogyakarta
Kraton Yogyakarta